TIKUS DAN KUCING
Terdengar suara seseorang
memanggilku dari arah belakang. Aku berhenti dan memutar badanku sampai kutahu
siapa yang memanggilku. Ternyata dia, gumamku dalam hati. Ia berjalan
menghampiriku. Aku mengacuhkannya. Lalu, aku berbalik dan berjalan lagi.
Dia adalah Dion, teman sekelasku.
Teman bertengkarku setiap hari. Pasti ada saja hal yang harus kami ributkan.
Sampai-sampai kami dijuluki “Tikus dan Kucing”. Dia juga sering sekali
membuatku marah, kesal dan menangis dengan keusilannya bersama teman-temannya.
Seperti menyembunyikan tasku, mengambil bekal makan siangku, menyoreti
buku-bukuku, dan masih banyak lagi. Setiap kali aku bertengkar dengannya dan
diusili olehnya, aku selalu mencoba untuk lebih sabar dan memaafkannya. Namun
kesabaranku terkuras habis karena ulahnya tadi pagi yang sangat menyebalkan.
Aku bersama teman-temanku baru saja
kembali dari kantin. Sepanjang jalan, kami asyik mengobrol tentang Super
Junior, boyband favoritku yang berasal dari Korea. Sampai di depan pintu kelas,
aku terpaku menatap mejaku. Aku pun segera berlari menghampirinya. Kulihat
jaket biru favoritku, hadiah dari Kakakku yang sekolah di Prancis, sudah basah
berlumuran jus alpukat.
“Siapa yang telah mengotori
jaketku?” teriakku.
Semua yang ada di kelas langsung
menatapku. Tak ada yang menjawab. Mereka terkejut dengan teriakkanku.
“Siapa yang telah mengotori
jaketku?” teriakku lagi, makin keras.
“Dion, tuh!” jawab seseorang dari
sudut kelas.
“Sorry. Gak sengaja,” jawab Dion
dengan entengnya.
Aku segera menghampiri Dion yang
duduk di kursi guru. Wajahnya terlihat seperti tak merasa bersalah, malah ia
tersenyum seperti orang yang bahagia. Membuatku makin geram terhadapnya. Aku memukul meja di depannya, membuatnya
tersontak kaget.
“Apa-apaan kamu?” Ia berdiri dari
kursinya.
“Masih nanya? Kamu kan yang buat
jaket aku kotor?” sentakku padanya. Kami mulai memanas. Semua yang ada di kelas
hanya menonton pertengkaran kami. Tak ada yang berani melerai.
“Kan aku udah minta maaf. Kamu mau
apa lagi?”
“Kamu pikir jaket aku bisa bersih
dengan maaf doang?”
“Terus kamu maunya apa?”
Aku terdiam. “Sebenernya, kamu ada
masalah apa sih sama aku?”
“Maksud kamu?”
“Kenapa sih tiap hari kamu selalu
cari gara-gara sama aku? Kamu ada masalah apa sama aku? Apa aku pernah buat
salah sama kamu?”
“Aku kan bilang nggak sengaja,”
“Bohong,” teriakku. “Gak cuma kali
ini aja kamu cari gara-gara sama aku, tiap hari, Yon. Bilang aja kalo kamu
punya masalah sama aku!”
“Aku nggak punya masalah apa-apa kok
sama kamu. Ya udah, aku minta maaf. Tapi aku beneran nggak sengaja. Sini biar
jaketnya aku cuciin!” Tanganya hendak mengambil jaketku.
“Gak usah!” Tanganku menepis
tangannya. “Aku udah sering sabar ngehadepin ulah kamu, tapi kali ini aku nggak
bisa. Aku nggak bisa terus sabar ngadepin kamu. Aku nggak mau maafin kamu.”
Ia kaget mendengar ucapanku. “Cha,
aku bener-bener minta maaf.”
“Aku benci sama kamu.” kataku sambil
berlalu keluar kelas. Kedua sahabatku segera menyusulku.
Dion
amat terkejut mendengar kata-kataku. Aku memang belum pernah semarah ini
padanya. Namun kali ini, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya. Beberapa
siswa yang tadi menonton pertengkaran kami, mulai berhamburan. Dan Dion
terduduk lemas di kursinya.
Selama
belajar, aku sama sekali tak mau memandangnya. Setelah bel pulang sekolah
berbunyi, aku langsung membereskan seluruh bukuku dan bergegas pulang. Agar aku
bisa menghindarinya. Namun entah mengapa, sekarang ia malah ada di hadapanku.
Menatapku lekat-lekat, membuat hatiku dag dig dug tak karuan.
“Masih
marah?” tanyanya penuh senyum.
“Menurut
kamu?” balasku ketus.
“Maaf,
deh. Aku janji nggak akan ngulanginnya lagi!” Ia mengangkat kedua tangannya dan
membentuk huruf V pada kedua jarinya. Membuatku ingin tertawa. Jujur saja, aku
tak bisa betul-betul marah padanya. Tapi kalau tiap hati dikerjai, aku juga tak
tahan.
“Aku
nggak mau maafin kamu.”
“Jangan
gitu, dong!” rayunya. “Nggak maafin orang, nggak baik lho!”
“Emang
aku pikirin? Aku udah cape sama kelakuan kamu. Kayaknya kamu nggak bisa
ngebiarin aku seneng sedikit aja. Aku buat salah apa sama kamu?”
“Kamu
nggak salah apa-apa, kok.”
“Terus
kenapa kamu hobby banget ngusilin aku?”
Ia
terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
“Udahlah,
kalo kamu nggak bisa jawab. Nggak penting juga.” kataku, akhirnya. “Awas! Aku
mau pulang.” Aku berlalu di hadapannya.
“Kamu
mau tahu kenapa aku suka jailin kamu?” Langkahku terhenti, menunggu
kelajutannya. “Karna aku suka kamu, Cha.”
Jantungku
seakan berhenti berdetak. Nafasku tak beraturan seperti baru selesai lari
marathon. Dion suka padaku? Ia berjalan menghampiriku. Dan aku masih terpaku di
tempatku. Ia memegang bahuku dan memutar badanku sampai menghadapnya. Sejukur
tubuhku gemetar. Aku tak berani menatap matanya.
“Selama
ini aku selalu ngerjain kamu, karna aku ingin deket sama kamu. Aku pengen dapet
perhatian dari kamu.” katanya lembut terdengar di telingaku. “Maaf! Karena
selama ini udah sering buat kamu marah dan kesel.”
Aku
mengangguk pelan.
“Jadi,
kamu maafin aku?”
Aku
mengangguk lagi.
Ia
pun tersenyum lega. Seperti baru saja terlepas dari beban yang sangat berat.
Dia menatapku lekat-lekat dan mengangkat wajahku. Aku pun terpaksa menatap
matanya. Aku belum pernah sedekat ini dengannya. Ia begitu tampan dan gagah di
mataku.
“Chacha,”
panggilnya lirih. “Mau nggak kamu jadi pacarku?”
Aku
semakin gugup. Menjadi pacarnya? Apa sekarang saatnya tikus dan kucing untuk
berdamai? Kalau boleh jujur, aku juga suka padanya. Sejak dia mulai usil
padaku. Mungkin, caranya untuk mendekatiku berhasil.
Aku
pun mengangguk pelan.
“Kamu
beneran mau jadi pacarku?”
“Iya,”
jawabku setengah gugup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar