Kamis, 26 September 2013

tikus dan kucing



TIKUS DAN KUCING
            Terdengar suara seseorang memanggilku dari arah belakang. Aku berhenti dan memutar badanku sampai kutahu siapa yang memanggilku. Ternyata dia, gumamku dalam hati. Ia berjalan menghampiriku. Aku mengacuhkannya. Lalu, aku berbalik dan berjalan lagi.
            Dia adalah Dion, teman sekelasku. Teman bertengkarku setiap hari. Pasti ada saja hal yang harus kami ributkan. Sampai-sampai kami dijuluki “Tikus dan Kucing”. Dia juga sering sekali membuatku marah, kesal dan menangis dengan keusilannya bersama teman-temannya. Seperti menyembunyikan tasku, mengambil bekal makan siangku, menyoreti buku-bukuku, dan masih banyak lagi. Setiap kali aku bertengkar dengannya dan diusili olehnya, aku selalu mencoba untuk lebih sabar dan memaafkannya. Namun kesabaranku terkuras habis karena ulahnya tadi pagi yang sangat menyebalkan.
            Aku bersama teman-temanku baru saja kembali dari kantin. Sepanjang jalan, kami asyik mengobrol tentang Super Junior, boyband favoritku yang berasal dari Korea. Sampai di depan pintu kelas, aku terpaku menatap mejaku. Aku pun segera berlari menghampirinya. Kulihat jaket biru favoritku, hadiah dari Kakakku yang sekolah di Prancis, sudah basah berlumuran jus alpukat.
            “Siapa yang telah mengotori jaketku?” teriakku.
            Semua yang ada di kelas langsung menatapku. Tak ada yang menjawab. Mereka terkejut dengan teriakkanku.
            “Siapa yang telah mengotori jaketku?” teriakku lagi, makin keras.
            “Dion, tuh!” jawab seseorang dari sudut kelas.
            “Sorry. Gak sengaja,” jawab Dion dengan entengnya.
            Aku segera menghampiri Dion yang duduk di kursi guru. Wajahnya terlihat seperti tak merasa bersalah, malah ia tersenyum seperti orang yang bahagia. Membuatku makin geram terhadapnya.  Aku memukul meja di depannya, membuatnya tersontak kaget.
            “Apa-apaan kamu?” Ia berdiri dari kursinya.
            “Masih nanya? Kamu kan yang buat jaket aku kotor?” sentakku padanya. Kami mulai memanas. Semua yang ada di kelas hanya menonton pertengkaran kami. Tak ada yang berani melerai.
            “Kan aku udah minta maaf. Kamu mau apa lagi?”
            “Kamu pikir jaket aku bisa bersih dengan maaf doang?”
            “Terus kamu maunya apa?”
            Aku terdiam. “Sebenernya, kamu ada masalah apa sih sama aku?”
            “Maksud kamu?”
            “Kenapa sih tiap hari kamu selalu cari gara-gara sama aku? Kamu ada masalah apa sama aku? Apa aku pernah buat salah sama kamu?”
            “Aku kan bilang nggak sengaja,”
            “Bohong,” teriakku. “Gak cuma kali ini aja kamu cari gara-gara sama aku, tiap hari, Yon. Bilang aja kalo kamu punya masalah sama aku!”
            “Aku nggak punya masalah apa-apa kok sama kamu. Ya udah, aku minta maaf. Tapi aku beneran nggak sengaja. Sini biar jaketnya aku cuciin!” Tanganya hendak mengambil jaketku.
            “Gak usah!” Tanganku menepis tangannya. “Aku udah sering sabar ngehadepin ulah kamu, tapi kali ini aku nggak bisa. Aku nggak bisa terus sabar ngadepin kamu. Aku nggak mau maafin kamu.”
            Ia kaget mendengar ucapanku. “Cha, aku bener-bener minta maaf.”
            “Aku benci sama kamu.” kataku sambil berlalu keluar kelas. Kedua sahabatku segera menyusulku.
Dion amat terkejut mendengar kata-kataku. Aku memang belum pernah semarah ini padanya. Namun kali ini, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya. Beberapa siswa yang tadi menonton pertengkaran kami, mulai berhamburan. Dan Dion terduduk lemas di kursinya.
Selama belajar, aku sama sekali tak mau memandangnya. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung membereskan seluruh bukuku dan bergegas pulang. Agar aku bisa menghindarinya. Namun entah mengapa, sekarang ia malah ada di hadapanku. Menatapku lekat-lekat, membuat hatiku dag dig dug tak karuan.
“Masih marah?” tanyanya penuh senyum.
“Menurut kamu?” balasku ketus.
“Maaf, deh. Aku janji nggak akan ngulanginnya lagi!” Ia mengangkat kedua tangannya dan membentuk huruf V pada kedua jarinya. Membuatku ingin tertawa. Jujur saja, aku tak bisa betul-betul marah padanya. Tapi kalau tiap hati dikerjai, aku juga tak tahan.
“Aku nggak mau maafin kamu.”
“Jangan gitu, dong!” rayunya. “Nggak maafin orang, nggak baik lho!”
“Emang aku pikirin? Aku udah cape sama kelakuan kamu. Kayaknya kamu nggak bisa ngebiarin aku seneng sedikit aja. Aku buat salah apa sama kamu?”
“Kamu nggak salah apa-apa, kok.”
“Terus kenapa kamu hobby banget ngusilin aku?”
Ia terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
“Udahlah, kalo kamu nggak bisa jawab. Nggak penting juga.” kataku, akhirnya. “Awas! Aku mau pulang.” Aku berlalu di hadapannya.
“Kamu mau tahu kenapa aku suka jailin kamu?” Langkahku terhenti, menunggu kelajutannya. “Karna aku suka kamu, Cha.”
Jantungku seakan berhenti berdetak. Nafasku tak beraturan seperti baru selesai lari marathon. Dion suka padaku? Ia berjalan menghampiriku. Dan aku masih terpaku di tempatku. Ia memegang bahuku dan memutar badanku sampai menghadapnya. Sejukur tubuhku gemetar. Aku tak berani menatap matanya.
“Selama ini aku selalu ngerjain kamu, karna aku ingin deket sama kamu. Aku pengen dapet perhatian dari kamu.” katanya lembut terdengar di telingaku. “Maaf! Karena selama ini udah sering buat kamu marah dan kesel.”
Aku mengangguk pelan.
“Jadi, kamu maafin aku?”
Aku mengangguk lagi.
Ia pun tersenyum lega. Seperti baru saja terlepas dari beban yang sangat berat. Dia menatapku lekat-lekat dan mengangkat wajahku. Aku pun terpaksa menatap matanya. Aku belum pernah sedekat ini dengannya. Ia begitu tampan dan gagah di mataku.
“Chacha,” panggilnya lirih. “Mau nggak kamu jadi pacarku?”
Aku semakin gugup. Menjadi pacarnya? Apa sekarang saatnya tikus dan kucing untuk berdamai? Kalau boleh jujur, aku juga suka padanya. Sejak dia mulai usil padaku. Mungkin, caranya untuk mendekatiku berhasil.
Aku pun mengangguk pelan.
“Kamu beneran mau jadi pacarku?”
“Iya,” jawabku setengah gugup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar