Kucing Manis Pemberian Ayah
Ujian sudah di ambang mata. Aku belum siap untuk menghadapi Si Monster yang banyak membuat para pelajar stress sebelum berperang. Sebenarnya kenyataan itu bertolak belakang denganku, bagiku ujian bukanlah Monster jahat yang gemar melahap para pelajar.
Meskipun otakku pas-pasan, tapi aku memimpikan SMP favorit sebagai lanjutan pencarian ilmu. Sebenarnya SMP favorit bukan motivasi aku untuk giat belajar menghadapi ujian, tapi karna Ayahku sudah berjanji akan membelikanku sepasang kucing yang selama ini aku idam-idamkan bila NEM-ku terbilang besar.
“Yah, Karin pengen dibeliin kucing!” rengekku kepada Ayah.
“Kamu kan tau sendiri kalau Kakakmu itu alergi sama bulu kucing.”
“Karin bisa kok jaga kucingnnya biar nggak deket-deket sama Kak Raka.”
“Ya sudah. Karna Ayah sudah bosan mendengar rengekan kamu yang selalu minta dibeliin kucing. Ayah mau beliin kamu kucing, dengan syarat nilai NEM kau harus besar.” janji Ayah kepadaku.
Sejak saat itu, aku benar-benar giat belajar. Semua buku persiapan untuk ujian aku beli dan aku baca sampai habis. Itu semua demi kucing yang Ayah janjikan, bukan hal yang lain.
Kerja kerasku selama ini, akhirnya terbayarkan. Nilai NEM-ku di atas rata-rata, 27,15. Aku sangat bangga dengan itu semua. Karna semua itu hasil kerja kerasku sendiri. Tanpa ada campur tangan orang lain. Dan hasilnya begitu sempurna. Sesuai yang aku inginkan.
Ayahku tak lupa dengan janjinya. Ia membelikanku sepasang kucing yang sangat manis dan lucu. Aku sangat senang. Aku berterimakasih kepada Ayahku yang sangat baik sekali. Mereka berdua sejodoh. Si Jantan aku namai Kiki dan yang betina aku namai Lily. Entah dari nama nama-nama itu. Yang jelas, tiba-biba saja nama itu muncul di benakku.
Kedatangan Kiki dan Lily sempat menimbulkan pro dan kontra. Kubu pro tentunya ada di pihakku. Dan kubu kontra memihak Kak Raka.
“Kakak nggak suka kalo di rumah ini ada kucing.” bentak Kak Raka. Kemuadian ia bersin.
“Mama juga kurang setuju kalo kamu melihara kucing. Bukan karna Mama memihak sama Kakak kamu yang alergi kucing ini, tapi kucing itu jorok. Mereka suka buang kotoran sembarangan.”
“Tapi kan Karin suka kucing. Kak Raka sama Mama ngertiin Karin, dong!” bujukku.
“Sekali nggak tetep nggak!” bentak Kak Raka lagi.
Di tengah perdebatan hebat, Ayah muncul sebagai pelerai. Ia memberikanku sebuah kandang kucing yang sangat bagus. Kandang kucing itu ia buat dengan tangannya sendiri. Aku sangat terharu.
“Rin, ini Ayah buatkan kandang kucing. Jadi, kucingnnya ditaruh di luar rumah saja. Mama sama Kakak setuju, kan?”
“Itu sedikit lebih baik.” ucap Kak Raka. Setelah itu ia pergi menuju kamarnya.
Aku pun mengangguk setuju.
Kandang kucing itu aku simpan dekat kamarku. Kandang itupun menjadi sejarah untuk Kiki dan Lily. Karna di tempat itulah mereka menghasilkan buah cinta mereka. Sekarang mereka sudah memiliki 4 ekor anak. Dan rumahku pun menjadi ramai dengan adanya meongan kucing-kucing.
Terimakasih Ayah, karena Engkau telah membelikan kucingkucing yang sangat manis kepadaku dan juga membuatkan mereka rumah. Karin bahagia memiliki ayah sepeti Ayah.