Selasa, 01 Oktober 2013

cinta pertama



Cinta Pertama
Aku melangkahkan kaki menuju kelas baruku. Kelasku masih kelas yang seminggu lalu aku dan tentu teman-teman baruku pakai saat MOPD. Hangatnya suasana MOPD masih terasa ketika aku memasuki kelasku. Beberapa siswa yang datang sebelumku masih memperbincangkan seputar MOPD.
     Aku berajalan menuju kursiku. Disana sudah menanti teman sebangkuku, Anne. Dia tersenyum manis kepadaku. Aku pun balas tersenyum dan duduk di sebelahnya. Aku mengenalnya di hari pertama MOPD. Dia berasal dari Cimahi. Dan ibunya adalah salah satu guru di SMA-ku sekarang. Dia begitu pendiam. Bila kutanya, dia hanya menjawab seperlunya. Membuat aku yang juga cukup pendiam jadi kikuk terhadapnya. Tapi aku tahu, dia adalah teman yang baik.
     Guru yang pertama kali masuk ke kelasku adalah Bu Riani. Beliau adalah guru fisika. Kesan pertama bertemu dengannya, not bad.
     Hari-hari belalu dengan suka duka yang aku lalui di sekolah baruku. Citra positif yang selama ini aku dengar di luar sana tentang sekolahku mulai pudar. Namun aku tetap menikmati pilihan yang telah aku ambil.
     Aku mulai mengenal teman-teman baru. Baik kelasku sendiri X-1, maupun pun kelas lain yang diperkenalkan teman kepadaku. Ada diantara mereka yang cukup membuatku nyaman, ada pula yang hanya sekedar menjadi temanku. Aku pun mulai memberanikan diri untuk eksis berada di kelasku. Di beberapa kesempatan aku mulai aktif ke depan kelas, mengerjakan beberapa soal atau berbicara beberapa kalimat.
     Nama-nama baru semakin memenuhi isi kepalaku. Dan ada satu mana yang mulai aku suka. Dia mengingatkan aku pada teman SMP-ku dulu yang pernah aku suka. Sebenarnya dia lebih cocok jadi teman bertengkarku. Karena hampir setiap hari ada saja hal yang harus kami ributkan. Kadang-kadang juga dia suka menjailiku. Dan mungkin aku suka padanya karna itu. Namanya Ilham.
     Keberadaanya membuatku cukup merasa senang. Aku bahkan senang ketika bertengkar dengannya. Karna itu mungkin adalah salah satu hal yang bisa membuatku dekat dengan Ilham.
     Sampai pada suatu saat hatiku goyah dengan perhatian kecil yang diberikan seorang siswa lain, teman baik Ilham. Perhatian kecil tak seberapa itu membuat hatiku dag dig dug. Aku yang belum pernah berpacaran, yang hanya dekat dengan laki-laki sebagai teman, mulai terpikat karna perhatian itu. Aku pun mulai menyukainya. Namanya Septian.
     Awal kedekatanku dengannya tidak begitu jelas. Tahu-tahu, kami sudah cukup akrab dan sering mengobrol. Sama seperti dengan Ilham, saat bersama Septian pun aku juga senang. Banyak hal aku lalui bersama Septian, entah itu menyenangkan, memalukan, menyedihkan, bahkan mengecewakan.
     Puncak bahagiaku bersama Septian adalah selasa siang sehabis tugas tambahan Seni Budaya. Paginya aku diberi permen olehnya, hatiku amat berbunga-bunga. Dan selesai tugas, aku diantar pulang olehnya. Walau tak sampai rumah dan ditemani guyuran hujan. Aku tetap merasa senang luar biasa.
     Namun kebahagiaanku hanya berlangsung sementara. Hanya sekejap mata. Sampai aku tahu dia sedang mendekati seorang perempuan, yang aku kenal. Aku memang tidak menjauh darinya. Namun aku memendam kecewa dan pertanyaan besar, “Apa maksudnya kamu memberi perhatian selama ini, kalau sebenarnya kamu sedang mendekati perempuan lain? Apa kamu hanya mempermainkan aku? Atau aku yang terlalu berlebihan menanggapinya?” Semua itu tak pernah ada jawabannya.
     Semakin hari, semakin membuat hatiku sakit. Aku semakin tahu kedekatan Septian dengan perempuan bernama Friska. Jujur, aku patah hati. Namun aku berusaha menegarkan diri karna aku hanya teman bagi Septian.
     Yang semakin aku bingung darinya adalah dia tetap memberi perhatian padaku—meski sesekali dan dingin—walau dia sedang mendekati Friska. Dan aku pun mengambil kesimpulan, “Septian memang care padaku—sebagai teman, namun dia lebih tertarik pada Friska.” Aku berusaha untuk menerimanya, meski rasanya sakit.
     Pada suatu hari, Septian mengirim pesan singkat bahwa dia akan pindah sekolah. Entah mengapa pada saat itu aku menangis. Aku seakan takut kehilangan Septian. Aku takut jauh dari Septian. Pada saat itu juga, aku sadar, aku tidak hanya menyukai Septian. Aku juga jatuh cinta padanya.
     “Ya sudahlah, itu keputusannya,” kataku menghibur diri. Tapi aku tetap berharap bahwa rencananya tidak akan pernah terlaksana.
     Ketika sekolah sedang liburan semester, Septian sengaja datang ke rumahku bersama Ilham. Aku tak tahu niat awal mereka datang ke rumahku, namun akhirnya Septian curhat bahwa dia baru saja patah hati oleh Friska. Aku tak tahu harus senang atau sedih, yang jelas aku mencoba bersikap sebisaku. Dia juga sempat bilang, kalau dia tidak jadi pindah sekolah.
     Hari itu adalah hari terindah bagiku—pikirku saat itu. Malam harinya dia menyatakan cinta padaku dan memintaku jadi pacarnya. Jujur, aku sangat sangat senang. Dan aku tak tahu harus menjawab apa. Aku memang jatuh cinta padanya. Aku juga punya harapan kecil untuk jadi pacarnya. Tapi aku tak pernah berbesar hati untuk itu. Aku hanya ingin dekat dengan Septian—menjadi teman baiknya. Tapi akhirnya kujawab, “Aku mau jadi pacar kamu.”
     Beberapa hari kujalani, aku seperti putri. Aku merasakan indahnya jatuh cinta. Dia memperlakukanku begitu manis. Bodohnya aku, karna belum terbiasa dan merasa canggung. Aku sering menghindar ketika dia hendak mendekatiku.
     Sampai-sampai dia pernah bertanya, “Kok tiap aku deketin selalu ngehindar? Kenapa?”
     Aku hanya tertunduk malu dan merasa bersalah—mengutuk diri yang begitu bodoh. “Maaf, aku belum terbiasa,”
     “Kenapa kalo deket Reza mah mau?” Inilah awal masalahku dengan Septian.
     Reza adalah teman baik Septian ketika masih di SMP. Aku tak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya. Aku hanya merasa nyaman ketika mengobrol dengannya. Dia seperti Kakak yang selalu aku idamkan.
     Namun karena Septian tidak suka, aku pun agak menjauh dari Reza.
     Tetapi masalah tidak berakhir begitu saja. Aku merasa Septian seperti tidak menghargaiku. Hari itu, kelasku mendapat jadwal berenang. Aku sudah membuat janji dengan temanku, Alin, untuk pergi bersama. Lalu Septian menelepon ingin pergi bersamaku.
     “Ya udah, kita pergi bareng aja,” jawabku.
     Sampai di tempat yang sudah dijanjikan, amat terkejutnya aku melihat sebatang rokok yang masih menyala di tangan Septian. Aku berjalan melewatinya tanpa memandangnya dan segera naik boncengan motor Alin.
     Aku tahu Septian adalah perokok, aku berusaha memahaminya. Tapi aku pernah berkata, “Aku gak suka cowok perokok. Tapi aku berusaha menghargai kamu, sok aja ngerokok. Tapi… tolong jangan pernah ngerokok di depan aku.”
     Tapi ternyata dia tidak mengubris permintaanku. Dia sama sekali tidak menghargaiku. Aku sangat sangat kecewa.
     “Maaf,” katanya. “Aku akan berusaha untuk berhenti ngerokok.” Dan dengan berbagai alasan lain, aku pun memaafkannya.
     Septian masih tetap saja membuatku kecewa. Aku berusaha untuk tetap bertahan. Aku tak ingin menyesal akhirnya bila aku menyerah sampai disitu. Dan kesabaranku pun telah sampai titik akhir. Aku tak sanggup lagi bertahan.
     Sebelum Septian dekat denganku, terlebih dahulu dia dekat dengan Maria yang merupakan teman baikku. Setelah Septian berpacaran denganku hubungannya dengan Maria sedikit renggang. Aku pun membantu memperbaiki hubungan mereka. Selang beberapa hari, Septian secara terang-terangan bilang padaku bahwa dia mempunyai hubungan lebih dengan Maria.
     Hatiku seakan dipukul oleh palu besi yang sangat besar, sakit sekali. Aku tak sanggup lagi. Akhirnya kuminta pada Septian untuk mengakhiri hubungannya denganku. Kami pun putus secara baik-baik.
     Awalnya aku merasa canggung ketika harus dekat dengan Septian. Jujur, aku masih menyimpan perasaan sayang padanya. Aku selalu berusaha bersikap biasa. Memang terasa berat, namun setelah aku mulai terbiasa, semua pun tak merasa canggung lagi.
     Setelah putus, ternyata hubunganku dengan Septian jauh lebih baik. Kalau boleh dibilang, aku lebih merasa nyaman menjadi teman baik Septian daripada menjadi pacarnya. Meskipun rasa sayangku berbeda.
     Aku tidak pernah menyesal pernah berpacaran dengan Septian. Dari itu semua aku dapat mengambil pelajaran bahwa jangan terlalu percaya pada ucapan laki-laki. Aku senang karena pacar pertamaku adalah cinta pertamaku. Aku juga merasa sedikit menjadi dewasa setelah berpacaran dengan Septian. Aku juga tidak pernah menyesal mengakhiri hubungan dengannya. Karna aku merasa jauh lebih nyaman dan bahagia dengan dirinya yang sekarang.
     Kesimpulanku, ternyata pacaran itu tidak enak—itu kan menurutku. Justu aku bingung dengan orang-orang yang tidak tahan dengan status jomblo. Dan kuputuskan untuk saat ini, “Aku tidak akan pacaran dulu dengan siapapun, termasuk Septian. Tapi mungkin aku bisa mencobanya di kemudian hari setelah aku siap lagi.”
     Aku juga masih menyimpan satu kekecawaan. Saat aku masih berpacaran dengan Septian, aku melewati ulang tahunku yang keenambelas. Dia pernah berjanji akan memberiku sebuah kado yang sampai detik ini belum ia tepati. Ah, jangankan kado, kuminta ucapannya saja dia tidak mau.
     Sekarang aku hanya ingin Septian bilang, “Selamat ulang tahun, Amanda.”