Cinta Pertama
Aku
melangkahkan kaki menuju kelas baruku. Kelasku masih kelas yang seminggu lalu
aku dan tentu teman-teman baruku pakai saat MOPD. Hangatnya suasana MOPD masih
terasa ketika aku memasuki kelasku. Beberapa siswa yang datang sebelumku masih
memperbincangkan seputar MOPD.
Aku berajalan menuju kursiku. Disana sudah
menanti teman sebangkuku, Anne. Dia tersenyum manis kepadaku. Aku pun balas
tersenyum dan duduk di sebelahnya. Aku mengenalnya di hari pertama MOPD. Dia
berasal dari Cimahi. Dan ibunya adalah salah satu guru di SMA-ku sekarang. Dia
begitu pendiam. Bila kutanya, dia hanya menjawab seperlunya. Membuat aku yang
juga cukup pendiam jadi kikuk terhadapnya. Tapi aku tahu, dia adalah teman yang
baik.
Guru yang pertama kali masuk ke kelasku
adalah Bu Riani. Beliau adalah guru fisika. Kesan pertama bertemu dengannya, not bad.
Hari-hari belalu dengan suka duka yang aku
lalui di sekolah baruku. Citra positif yang selama ini aku dengar di luar sana
tentang sekolahku mulai pudar. Namun aku tetap menikmati pilihan yang telah aku
ambil.
Aku mulai mengenal teman-teman baru. Baik
kelasku sendiri X-1, maupun pun kelas lain yang diperkenalkan teman kepadaku.
Ada diantara mereka yang cukup membuatku nyaman, ada pula yang hanya sekedar
menjadi temanku. Aku pun mulai memberanikan diri untuk eksis berada di kelasku.
Di beberapa kesempatan aku mulai aktif ke depan kelas, mengerjakan beberapa
soal atau berbicara beberapa kalimat.
Nama-nama baru semakin memenuhi isi
kepalaku. Dan ada satu mana yang mulai aku suka. Dia mengingatkan aku pada
teman SMP-ku dulu yang pernah aku suka. Sebenarnya dia lebih cocok jadi teman
bertengkarku. Karena hampir setiap hari ada saja hal yang harus kami ributkan.
Kadang-kadang juga dia suka menjailiku. Dan mungkin aku suka padanya karna itu.
Namanya Ilham.
Keberadaanya membuatku cukup merasa senang.
Aku bahkan senang ketika bertengkar dengannya. Karna itu mungkin adalah salah
satu hal yang bisa membuatku dekat dengan Ilham.
Sampai pada suatu saat hatiku goyah dengan
perhatian kecil yang diberikan seorang siswa lain, teman baik Ilham. Perhatian
kecil tak seberapa itu membuat hatiku dag dig dug. Aku yang belum pernah
berpacaran, yang hanya dekat dengan laki-laki sebagai teman, mulai terpikat
karna perhatian itu. Aku pun mulai menyukainya. Namanya Septian.
Awal kedekatanku dengannya tidak begitu
jelas. Tahu-tahu, kami sudah cukup akrab dan sering mengobrol. Sama seperti
dengan Ilham, saat bersama Septian pun aku juga senang. Banyak hal aku lalui
bersama Septian, entah itu menyenangkan, memalukan, menyedihkan, bahkan
mengecewakan.
Puncak bahagiaku bersama Septian adalah
selasa siang sehabis tugas tambahan Seni Budaya. Paginya aku diberi permen
olehnya, hatiku amat berbunga-bunga. Dan selesai tugas, aku diantar pulang
olehnya. Walau tak sampai rumah dan ditemani guyuran hujan. Aku tetap merasa
senang luar biasa.
Namun kebahagiaanku hanya berlangsung
sementara. Hanya sekejap mata. Sampai aku tahu dia sedang mendekati seorang
perempuan, yang aku kenal. Aku memang tidak menjauh darinya. Namun aku memendam
kecewa dan pertanyaan besar, “Apa maksudnya kamu memberi perhatian selama ini,
kalau sebenarnya kamu sedang mendekati perempuan lain? Apa kamu hanya
mempermainkan aku? Atau aku yang terlalu berlebihan menanggapinya?” Semua itu
tak pernah ada jawabannya.
Semakin hari, semakin membuat hatiku sakit.
Aku semakin tahu kedekatan Septian dengan perempuan bernama Friska. Jujur, aku
patah hati. Namun aku berusaha menegarkan diri karna aku hanya teman bagi
Septian.
Yang semakin aku bingung darinya adalah dia
tetap memberi perhatian padaku—meski sesekali dan dingin—walau dia sedang
mendekati Friska. Dan aku pun mengambil kesimpulan, “Septian memang care padaku—sebagai teman, namun dia
lebih tertarik pada Friska.” Aku berusaha untuk menerimanya, meski rasanya
sakit.
Pada suatu hari, Septian mengirim pesan
singkat bahwa dia akan pindah sekolah. Entah mengapa pada saat itu aku
menangis. Aku seakan takut kehilangan Septian. Aku takut jauh dari Septian.
Pada saat itu juga, aku sadar, aku tidak hanya menyukai Septian. Aku juga jatuh
cinta padanya.
“Ya sudahlah, itu keputusannya,” kataku
menghibur diri. Tapi aku tetap berharap bahwa rencananya tidak akan pernah
terlaksana.
Ketika sekolah sedang liburan semester,
Septian sengaja datang ke rumahku bersama Ilham. Aku tak tahu niat awal mereka
datang ke rumahku, namun akhirnya Septian curhat bahwa dia baru saja patah hati
oleh Friska. Aku tak tahu harus senang atau sedih, yang jelas aku mencoba
bersikap sebisaku. Dia juga sempat bilang, kalau dia tidak jadi pindah sekolah.
Hari itu adalah hari terindah
bagiku—pikirku saat itu. Malam harinya dia menyatakan cinta padaku dan
memintaku jadi pacarnya. Jujur, aku sangat sangat senang. Dan aku tak tahu
harus menjawab apa. Aku memang jatuh cinta padanya. Aku juga punya harapan
kecil untuk jadi pacarnya. Tapi aku tak pernah berbesar hati untuk itu. Aku
hanya ingin dekat dengan Septian—menjadi teman baiknya. Tapi akhirnya kujawab,
“Aku mau jadi pacar kamu.”
Beberapa hari kujalani, aku seperti putri.
Aku merasakan indahnya jatuh cinta. Dia memperlakukanku begitu manis. Bodohnya
aku, karna belum terbiasa dan merasa canggung. Aku sering menghindar ketika dia
hendak mendekatiku.
Sampai-sampai dia pernah bertanya, “Kok
tiap aku deketin selalu ngehindar? Kenapa?”
Aku hanya tertunduk malu dan merasa
bersalah—mengutuk diri yang begitu bodoh. “Maaf, aku belum terbiasa,”
“Kenapa kalo deket Reza mah mau?” Inilah
awal masalahku dengan Septian.
Reza adalah teman baik Septian ketika masih
di SMP. Aku tak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya. Aku hanya merasa nyaman
ketika mengobrol dengannya. Dia seperti Kakak yang selalu aku idamkan.
Namun karena Septian tidak suka, aku pun
agak menjauh dari Reza.
Tetapi masalah tidak berakhir begitu saja.
Aku merasa Septian seperti tidak menghargaiku. Hari itu, kelasku mendapat
jadwal berenang. Aku sudah membuat janji dengan temanku, Alin, untuk pergi
bersama. Lalu Septian menelepon ingin pergi bersamaku.
“Ya udah, kita pergi bareng aja,” jawabku.
Sampai di tempat yang sudah dijanjikan,
amat terkejutnya aku melihat sebatang rokok yang masih menyala di tangan
Septian. Aku berjalan melewatinya tanpa memandangnya dan segera naik boncengan
motor Alin.
Aku tahu Septian adalah perokok, aku berusaha
memahaminya. Tapi aku pernah berkata, “Aku gak suka cowok perokok. Tapi aku
berusaha menghargai kamu, sok aja ngerokok. Tapi… tolong jangan pernah ngerokok
di depan aku.”
Tapi ternyata dia tidak mengubris
permintaanku. Dia sama sekali tidak menghargaiku. Aku sangat sangat kecewa.
“Maaf,” katanya. “Aku akan berusaha untuk
berhenti ngerokok.” Dan dengan berbagai alasan lain, aku pun memaafkannya.
Septian masih tetap saja membuatku kecewa.
Aku berusaha untuk tetap bertahan. Aku tak ingin menyesal akhirnya bila aku
menyerah sampai disitu. Dan kesabaranku pun telah sampai titik akhir. Aku tak
sanggup lagi bertahan.
Sebelum Septian dekat denganku, terlebih
dahulu dia dekat dengan Maria yang merupakan teman baikku. Setelah Septian
berpacaran denganku hubungannya dengan Maria sedikit renggang. Aku pun membantu
memperbaiki hubungan mereka. Selang beberapa hari, Septian secara
terang-terangan bilang padaku bahwa dia mempunyai hubungan lebih dengan Maria.
Hatiku seakan dipukul oleh palu besi yang
sangat besar, sakit sekali. Aku tak sanggup lagi. Akhirnya kuminta pada Septian
untuk mengakhiri hubungannya denganku. Kami pun putus secara baik-baik.
Awalnya aku merasa canggung ketika harus
dekat dengan Septian. Jujur, aku masih menyimpan perasaan sayang padanya. Aku
selalu berusaha bersikap biasa. Memang terasa berat, namun setelah aku mulai terbiasa,
semua pun tak merasa canggung lagi.
Setelah putus, ternyata hubunganku dengan
Septian jauh lebih baik. Kalau boleh dibilang, aku lebih merasa nyaman menjadi
teman baik Septian daripada menjadi pacarnya. Meskipun rasa sayangku berbeda.
Aku tidak pernah menyesal pernah berpacaran
dengan Septian. Dari itu semua aku dapat mengambil pelajaran bahwa jangan
terlalu percaya pada ucapan laki-laki. Aku senang karena pacar pertamaku adalah
cinta pertamaku. Aku juga merasa sedikit menjadi dewasa setelah berpacaran
dengan Septian. Aku juga tidak pernah menyesal mengakhiri hubungan dengannya.
Karna aku merasa jauh lebih nyaman dan bahagia dengan dirinya yang sekarang.
Kesimpulanku, ternyata pacaran itu tidak
enak—itu kan menurutku. Justu aku bingung dengan orang-orang yang tidak tahan
dengan status jomblo. Dan kuputuskan untuk saat ini, “Aku tidak akan pacaran
dulu dengan siapapun, termasuk Septian. Tapi mungkin aku bisa mencobanya di
kemudian hari setelah aku siap lagi.”
Aku juga masih menyimpan satu kekecawaan.
Saat aku masih berpacaran dengan Septian, aku melewati ulang tahunku yang
keenambelas. Dia pernah berjanji akan memberiku sebuah kado yang sampai detik
ini belum ia tepati. Ah, jangankan kado, kuminta ucapannya saja dia tidak mau.
Sekarang aku hanya ingin Septian bilang,
“Selamat ulang tahun, Amanda.”